NabiMuhammad Saw juga menganjurkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. Pernah ketika menghadapi wabah penyakit Thaun, Rasulullah bersabda; "Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum Mukminin." (HR. Bukhari).
MukjizatMuhammad (bahasa Arab: معجزات محمد ) adalah sesuatu yang luar biasa yang diberikan Allah kepada Muhammad, Nabi dan Rasul penutup dalam agama Islam.. Al-Qur'an yang dalam Islam merupakan sumber rujukan tertinggi, dan begitupula Shahih Bukhari yang derajatnya tertinggi kedua setelah Al-Qur'an, dengan terang benderang mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak diberikan mukjizat
Takada yang salah dengan pesan itu karena memang Hadisnya shahih dan juga diterangkan dalam Al-Qur'an. Namun, ada Hadis lain yang derajatnya juga shahih dan tidak boleh diabaikan oleh umat Islam. Yaitu perintah untuk berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Ahlul Bait. Keduanya sama-sama shahih.
1 Hukum Beradab dengan Rasulullah ialah wajib seusai dengan dalil berikut : Allah telah mewajibkan setiap mukmin untuk hormat terhadap Nabi Muhammad S.A.W seperti yang ditegaskan dalam firman Allah : " Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. .". ( Al-Hujurat 49:1 )
Ketikakembali ke Tanah Air, alangkah lebih baiknya para calon jamaah haji dan juga umat Islam pada umumnya untuk melaksanakan tiga pesan Rasulullah saat melaksanakan haji wada atau haji perpisahan. Dalam suatu hadis, saat melaksanakan haji perpisahan ini, Nabi Muhammad berpesan kepada umatnya untuk menjadi Mukmin, Muslim, Mujahid dan
..ASSALAMUALAIKUM TEMEN2abi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا
. Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang memberikan tauladan terbaik kepada umatnya. Beliau banyak memberikan pesan-pesan penting untuk kehidupan manusia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ baca juga Teladan Kemerdekaan dalam Kisah Pembebasan Kota Makkah Doa-doa yang Dibaca Nabi untuk Menyembuhkan Penyakit, Bisa Anda Amalkan! Pesan Cinta Tanah Air dalam Hadits Nabi Artinya “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputus-asaan terhadap apa yang ada pada manusia”. Terdapat tiga pesan dalam hadis di atas, yaitu salat dengan khusyu, menjaga lisan, dan mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Namun yang menjadi fokus dalam tulisan ini ialah pesan untuk menjaga lisan. Dalam hadis shahih lainnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga berpesan إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا Artinya “Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami. Karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami pun baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun ikut melenceng” HR Tirmidzi no 2407 dan dinilai hasan oleh Al Albani. Pun terkait dengan menjaga lisan, nabi mengaitkan dengan kualitas keimanan seseorang. Beliau SAW bersabda مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله واليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت Artinya “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam” HR. Bukhari dan Muslim. Semoga pesan-pesan nabi tentang keharusan menjaga lisan ini bermanfaat bagi kita semua. Sehingga kita dijadikan sebagai insan yang baik secara lisan maupun tindakan. Amin.[]
Oleh Bahron Ansori, Redaktur MINA Suatu hari, Nabi Shallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Abu Dzar Jundub bin Junadah, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi Bila dihayati, tiga pesan Nabi di atas, sebenarnya adalah kunci dalam meraih berbagai kesuksesan hidup di dunia hingga akhirat. Namun, tidak semua insan di bumi ini tahu bahwa pesan Nabi itu adalah kunci kemenangan. Pesan-pesan di atas, sejatinya bukan hanya untuk seorang sahabat seperti Abu Dzar saja, tapi juga untuk seluruh kaum muslimin dimana pun berada, agar tunduk dan patuh kepada apa-apa yang dibawa dan disampaikan Nabi. Tujuan tiga dari wasiat Nabi itu adalah agar umat Islam bisa melaksanakannya sehingga ia akan selamat dunia akhirat. Berikut adalah sekilas uraian tentang tiga wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di atas. Pertama, ittaqillah bertakwa kepada Allah’ dimana saja berada. Sangat mudah bagi setiap lisan untuk mengucapkan kata takwa’, tapi tidak semudah mengucapkan saat kata takwa’ itu mulai di amalkan. Takwa adalah alat untuk mengukur sejauh mana keyakinan seorang hamba dalam mengamalkan setiap perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan kata lain, rasa takwa di dalam diri seorang hamba akan menunjukkan sebenar dan sebesar keimanannya kepada Allah. Karena itu, takwa menjadi key word kata kunci dalam menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Dengan takwa itu pula, manusia jadi punya kualitas dihadapan manusia terlebih lagi di hadapan Allah Ta’ala. Banyak dalil dari al Qur’an dan as Sunnah yang meminta agar setiap hamba menjadi orang yang bertakwa. Takwa adalah sebuah wasiat yang mengandung inti pengamalan atas hak-hak Allah dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan seorang hamba. Tentang takwa itu, Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Takwa kepada Allah adalah meninggalkan apa yang Allah haramkan dan melaksanakan apa yang Ia wajibkan.” Jamiul Ulum wal Hikam, 1/400 Allah berfirman juga telah berfirman tentang sifat orang-orang yang bertakwa dalam al Quran surat al Baqarah ayat 177 yang artinya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Qs. Al-Baqarah 177 Kedua, melakukan amal kebaikan setelah melakukan dosa dan kesalahan. Beruntung sekali orang yang selalu punya niat baik di hatinya, dan berusaha untuk senantiasa berbuat baik kepada semua makhluk Allah Ta’ala. Sebagai manusia sempurna banyak salah dan dosa, maka sewajarnya manusia itu selalu ingat kepada Allah Ta’ala dengan berzikir selepas melakukan kesalahan dan dosa. Salah satu zikir yang sangat dicintai Allah adalah mengucapkan istighfar’ memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Seperti disebut dalam sebuah hadis bahwa iman manusia itu kadang naik dan kadang turun. Maka saat iman itu turun, saat itu pula banyak manusia yang tergelincir dalam kubangan dosa dan maksiat. Dosa dan maksiat akan menjadi hijab dinding pembatas bagi seorang hamba untuk bisa dekat kepada Allah. Karena itu, berbuat baik istighfar atau melakukan kebaikan selepas melakukan kesalahan adalah jalan terbaik agar iman itu bercahaya kembali. Tentang perbuatan baik itu, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang pagi dan petang dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” Qs. Hud 114. Ayat di atas asbab turunnya karena ada sebuah kisah dari sahabat Ibnu Mas’ud yang mengatakan kala itu ada seorang lelaki mencium seorang wanita bukan mahrom. Lalu orang itu berkata, “Wahai Nabi, apakah ayat itu khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang mengamalkannya dari umatku.” HR. Bukhari, 4687 Ketiga, miliki akhlak mulia dalam setiap pergaulan. Manusia, tidak akan pernah bisa mengikat hati seseorang dengan hartanya, pangkat dan lain sebagainya. Kalau pun bisa, semua itu sifatnya hanya sementara saja tidak langgeng. Tapi, manusia bisa mengikat hati manusia dengan akhlak mulia. Sebab akhlak mulia itu ibarat besi semberani, sekali ia menarik, maka benda-benda disekitarnya akan tertarik semua. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan dicintai oleh setiap manusi di manapun berada selama ia tetap mengedepankan akhlak mulia. Andai pun ia telah tiada, maka namanya akan tetap harum mewangi, dan tak pernah lekang di telan waktu. Lihat bagaimana akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Meski mereka sudah tidak hidup lagi di dunia ini, tapi cahaya akhlaknya masih terus dikenang dan diteladani oleh milyaran manusia sepanjang masa. Tentang akhlak mulia itu, umat Islam tidak semestinya mencari contoh lain selain dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kemuliaan akhlak Nabi sampai di puji dan diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam al Quran. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik.” Qs. Al-Ahzab 21 Bahkan, tentang akhlak mulia itu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri sudah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab Berakhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat adalah bukti nyata dari benarnya keimanan, lurusnya tauhid dan kokohnya amalan. Baik buruknya iman dan amal seseorang, akan terlihat bagaimana wujud akhlaknya. Maka tak heran, orang yang berakhlak mulia berbudi luhur akan mendapatkan kecintaan manusia lain. Di antara contoh akhlak mulia antara lain; silaturahim, memaafkan kesalahan orang lain, berkata baik, benar dan lemah lembut, sopan santun dalam segala hal, rendah hati, tidak banyak membuat-buat perkataan yang sifatnya ujub, termasuk selalu berwajah ceria dihadapan saudara sesama muslim lainnya merupakan akhlak mulia. Ibnul Mubarak pernah berkata, “Salah satu bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang.” Jamiul Ulum wal Hikam 1/457. Semoga Allah Ta’ala menguatkan hati kita untuk selalu berakhlak mulia, walaupun dengan berwajah cerah, ceria saat berjumpa sesama muslim lainnya. Dengan begitu, rasa kasih dan sayang manusia kepada kita akan akan menjadi wasilah turunnya rahmat dari Allah, wallahua’lam. A/RS3/RI-1 Mi’raj News Agency MINA
Sadarkah kamu, betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita semua, tetapi banyak orang yang tidak sadar. Diantaranya adalah nikmat ketika masa muda, ketika mendapatkan kesehatan, ketika diberikan kekayaan, dan dengan hal di atas, Rasulullah SAW berpesan melalui hadis dari Ibnu 'Abbas Radiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangku sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu" Supaya penjelasannya lebih dimengerti, simak ulasan berikut ini, ya!1. Manfaatkanlah waktu mudamu, sebelum waktu tuamuilustrasi membaca Al-Qur'an masih muda, pasti kita masih merasakan fisik yang sehat dan bugar, ya. Berbeda ketika sudah tua, fisik pasti melemah, bahkan semangat pun akan semakin menyusut. Sebelum terlambat, masa muda kita harus memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu dengan menjalani kehidupan yang penuh produktif, semata-mata untuk meraih rida Allah SWT. Jangan sampai ketika sudah tua nanti, penyesalan datang karena tidak memaksimalkan ibadah ketika masa mudanya. Perbaiki, yuk!2. Manfaatkan waktu sehat, sebelum datang waktu sakit ilustrasi produktif adalah aset yang paling berharga bagi setiap orang. Tidak semua orang mampu merasakan nikmat yang satu ini. Kadang ada yang harus diberi sakit dulu oleh-Nya, baru ia merasakan betapa berharganya berpesan, agar kita tidak menyia-nyiakan waktu ketika sehat, dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Lakukanlah hal yang positif sesuai dengan porsi dan kemampuan kita masing-masing. 3. Kekayaanmu, sebelum masa fakirmuilustrasi memegang uang Grabowska Hidup menjadi orang kaya, tidak selamanya mengenakkan, lho. Tahukah kamu, bahwa ujian Allah itu lebih berat diberikan kepada orang kaya daripada orang fakir. Orang kaya akan diuji sejauh mana ketulusan mereka dalam menyedekahkan hartanya di jalan semua harta itu hanyalah titipan semata, dan tentunya ada beberapa golongan yang memiliki hak terhadap harta kita. Seperti kaum duafa, miskin, fakir, dan sebagainya. Jika tidak kita sedekahkan kepada orang yang membutuhkan, maka hidup kita di dunia ini seakan-akan tidak ada artinya. Baca Juga Meneladani Kesalehan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 4. Isi waktu kosongmu, sebelum masa sibukmu ilustrasi membaca buku dan manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin. Bisa dengan membaca buku, berolahraga, belajar, dan kegiatan positif lainnya. Pada intinya, tetaplah untuk memiliki kegiatan yang positif, agar hidup semakin bermakna. Ada pepatah Arab mengatakan, "waktu itu lebih berharga daripada emas."Begitu berharganya, sehingga emas pun kalah eksisnya dengan waktu. Mulai dari sekarang, mari kita berusaha agar waktu yang kita miliki, bermanfaat dan jauh dari kata sia-sia. 5. Hidupmu sebelum matimuilustrasi dalam perjalanan adalah tentang perjalanan. Pada hakikatnya, semua akan kembali kepada sang pencipta alam semesta. Bekal yang perlu dipersiapkan untuk pulang hanyalah satu, yaitu ketaatan kepada Allah SWT. Kematian pasti tidak ada yang tahu, kan. Ia bisa datang kapan saja, dan di mana saja tanpa kita ketahui. Jangan sampai ajal menjemput, kita menyesal karena umur semasa di dunia tidak digunakan dengan baik. Semoga sehat yang Allah berikan, kekayaan yang melimpah, juga waktu yang kita miliki, bisa menjadi wasilah kebaikan untuk menghadap sang pencipta kelak. Amin. Baca Juga Surah Abasa, Teguran Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Rasulullah SAW berwasiat kepada umat Islam menjelang wafat Rasulullah SAW ilustrasi JAKARTA – Rasulullah SAW meninggalkan wasiat menjelang wafat kepada umatnya. Ada beberapa wasiat yang disampaikan. Berikut ini lima wasiat Rasulullah SAW untuk umat Muslim sebagaimana dilansir dari laman Mawdoo 1. Wasiat sholat Rasulullah SAW menyampaikan wasiat tentang sholat menjelang wafatnya. Wasiat ini disampaikan melalui Ali bin Abi Thalib sebagaimana hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah berikut ini كان آخر ُكلامِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ الصلاةَ الصلاةَ، اتقوا اللهَ فيما ملكت أيمانُكم "Kata-kata terakhir Rasulullah SAW, 'sholatlah, sholatlah. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian'". Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ketaatan dengan menunaikan sholat. Sebab menjelang wafat, Nabi SAW tetap memerintahkan untuk menunaikan sholat. 2. Menutup jendela Masjid Nabawi Tutup semua jendela di Masjid Nabawi, kecuali jendela Abu Bakar RA setelah dia naik ke mimbar. Wasiat ini disampaikan Rasulullah setelah penyakit yang menyebabkan dirinya wafat. Ini sebagaimana sabdanya سُدُّوا عَنِّي كُلَّ خَوْخَةٍ في هذا المَسْجِدِ، غيرَ خَوْخَةِ أبِي بَكْرٍ 3. Larangan baca Alquran saat rukuk dan sujud Dilarang membaca Alquran saat rukuk dan sujud. Rasulullah SAW bersabda ألَا وإنِّي نُهِيتُ أنْ أقْرَأَ القُرْآنَ رَاكِعًا، أوْ سَاجِدًا، فأمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فيه الرَّبَّ عزَّ وجلَّ، وأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا في الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ "Ketahuilah, aku dilarang membaca Alquran dalam keadaan ruku atau sujud. Adapun ruku maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu." HR Muslim dari jalur Abdullah bin Abbas. BACA JUGA Vaksin China Disebut Sebabkan Penyakit Kulit di Zimbabwe, Cek Faktanya!
loading...Rasulullah menyebut dua perkara yang sangat berharga yaitu Al-Quran dan Ahlul Bait beliau. Siapa yang bepegang teguh kepada keduanya maka ia tidak akan sesat. Ahlul Bait yang dimaksud adalah keluarga Nabi dan juga keturunan beliau. Foto/Ist Selama ini kita sering mendengar ceramah para Dai yang menukil Hadis Nabi "Ikutilah Al-Qur'an dan Sunnah ". Tak ada yang salah dengan pesan itu karena memang Hadisnya shahih dan juga diterangkan dalam Al-Qur' ada Hadis lain yang derajatnya juga shahih dan tidak boleh diabaikan oleh umat Islam. Yaitu perintah untuk berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Ahlul Bait. Keduanya sama-sama shahih. Rasulullah memerintahkan umatnya agar mengikuti Al-Qur'an, Sunnah dan Ahlul Bait. Inilah Hadis Tsaqalain dua perkara yang sangat berharga عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الهِs قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ الهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ الهِى وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِيDari Jabir bin Abdullah, dia berkata "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Arafah di dalam haji beliau, yang beliau di atas ontanya yang bernama Al-Qashwa, beliau sedang berkhutbah. Aku mendengar beliau bersabda "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kamu sesuatu jika kamu memeganginya niscaya kamu tidak akan sesat Kitabullah dan 'itrah-ku keturunanku/sanak keluargaku, ahli bait-ku. HR at-Tirmidzi, Ahmad dalam Al-Musnad. Kemudian Hadis yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan redaksi yang panjang عَنِ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَامَ رَسُولُ الهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ الهَع وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ الهَِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ الهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ وفي رواية هُوَ حَبْلُ الهِي مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ الهِو وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ الهَع فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ الهَض فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ الهَت فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ وفي رواية فَقُلْنَا مَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قَالَ لاَ وَايْمُ الهِْ إِنَّ الْمَرْأَةَ تَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ الْعَصْرَ مِنَ الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا فَتَرْجِعُ إِلَى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا أَهْلُ بَيْتِهِ أَصْلُهُ وَعَصَبَتُهُ الَّذِينَ حُرِمُوا الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْDari Zaid bin Arqam, dia berkata "Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri khutbah di hadapan kami di sebuah mata air yang disebut Khum, di antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, menyanjungNya, menasehati, mengingatkan, lalu bersabda "Amma ba'du, ingatlah wahai manusia, sesungguhnya saya adalah manusia biasa, sudah dekat masanya utusan Rabbku datang lalu aku akan menyambut, dan aku meninggalkan tsaqalain dua perkara yang sangat berharga pada kamu. Yang pertama adalah kitab Allah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, oleh karena itu pegangilah dan pegang-teguhlah ia. Dalam riwayat lain Kitab Allah itu adalah tali Allah, barangsiapa mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa meningalkannya maka dia berada di dalam kesesatan. Lalu beliau mendorong dan menyemangati untuk suka terhadap kitab Allah. Lalu beliau bersabda "Dan Ahli Bait-ku , aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang ahli bait-ku, aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang Ahli Bait-ku, aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang ahli bait-ku". Lalu Hushain berkata kepada Zaid "Dan siapakah Ahli Bait beliau itu wahai Zaid, bukankah istri-istri beliau termasuk Ahli Bait beliau?". Zaid menjawab "Memang secara umum istri-istri beliau termasuk Ahli Bait, tetapi ahli bait beliau adalah orang-orang setelah beliau yang diharamkan menerima zakat". Dalam riwayat lain "Maka kami bertanya 'Siapakah Ahli Bait beliau itu, apakah istri-istri beliau?". Dia menjawab "Tidak, demi Allah, sesungguhnya seorang istri itu terkadang bersama suaminya dalam suatu masa yang panjang, lalu suaminya menceraikannya, maka dia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Ahli Bait beliau adalah keturunannya dan 'ashabahnya keturunannya dari fihak laki-laki, yaitu orang-orang setelah beliau yang diharamkan menerima zakat. Hushain bertanya "Siapakah mereka". Zaid menjawab "Mereka adalah keluarga 'Ali, keluarga 'Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga 'Abbas". Hushain bertanya "Mereka semua ini diharamkan menerima zakat?". Zaid menjawab "Ya." HR Muslim 2408Dari hadis di atas ditarik kesimpulan bahwa Ahlul Bait ahli bait adalah "orang rumah" atau keluarga Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dalam pengertian naqliyah, Ahlul Bait berarti keturunan Rasulullah yang diharamkan menerima Menyakiti Ahlul BaitBanyak sekali ayat Al-Qur'an dan Hadis yang melarang dan membenci Ahlu Bait Rasulullah dan menyakiti mereka. Habib Zein bin Smith Al-Alawi Al-Husaini mengatakan, setiap muslim yang ingin menyelamatkan imannya hendaklah berhati-hati, jangan sampai membenci salah seorang dari ahlu bait atau menyusahkan mereka sebab dapat membahayakan iman dan kehidupannya di ulama menyebutkan bahwa orang yang menyakiti Ahlul Bait berarti telah menyakiti Nabi Muhammad. Allah memberi ancaman dalam Al-Qur'anإن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله فى الدنيا والآخرة وأعد لهم عذابا اليما"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." QS. Al-Ahzab 57. Di ayat sebelumnya ditegaskan "Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah." QS. Al-Ahzab 53Dalam Hadis, Nabi bersabda "Sesungguhnya aku memerangi orang-orang yang memerangi ahli baitku, dan aku memberi jaminan selamat kepada orang-orang yang berdamai dengan ahli baitku." HR at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim Baca Juga rhs
Dalam Sirah Nabawiyah terdapat satu riwayat yang sangat menyedihkan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Riwayat tentang wafatnya manusia mulia, Nabi Besar Muhammad Saw. Ada pesan-pesan yang telah dititipkan Rasulullah Saw kepada seluruh umatnya menjelang wafat, dan pesan itu harus diketahui seluruh umat Islam. Apabila umat muslim mengetahui kisah Rasulullah Saw saat menjelang wafat, sudah pasti akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Para sahabat, umat Islam saat itu gempar mendengar kabar kematian Baginda Rasulullah Saw. Bahkan unta tunggangan Rasulullah Saw ikut merasakan kesedihan yang tiada tara, hingga sakit dan turut pergi meninggalkan dunia. Tak cuma penduduk Madinah yang gempar, para malaikat dan alam semesta juga berduka menyaksikan dan mendengar kabar wafatnya Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw menghadap Ilahi Rabbi pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriyah bertepatan 633 Masehi. Beliau wafat pada usia 63 tahun lebih empat hari Isyarat dekatnya ajal Rasulullah dimulai ketika beliau beriktikaf selama 20 hari di bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah. Sebelum ajal menjemput, beliau memang sakit sampai tidak bisa mengimami salat jamaah di masjid. Hingga pada suatu hari datanglah malaikat maut bertamu ke rumah beliau untuk mengambil ruh Rasulullah yang mulia. Kedatangan tamu itu sebenarnya ditolak putri tercinta Sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha, tetapi setelah Rasulullah Saw menjelaskan bahwa yang datang adalah malaikat maut, akhirnya Fatimah merasakan gelisah dan hatinya sangat sedih. Kemudian dia mempersilakan masuk. Malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak ikut serta. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. Ketika Jibril datang ke hadapan Rasulullah , beliau berkata “Ya Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para Malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata jawaban itu tidak membuatkan Rasulullah lega, mata beliau masih penuh kecemasan. “Apakah Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” ucap Rasulullah . “Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat maut menjalankan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah Saw ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah Saw bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” ucap beliau. Perlahan Rasulullah Saw mengaduh, putri tercinta Fatimah pun hanya bisa terpejam, sementara Sayyidina Ali radhiallahu anhu yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan wajahnya. “Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” ujar Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril . Sesaat kemudian terdengar Rasulullah mengaduh karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Rabb, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” ucap Nabi. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibir beliau bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bissholaati, wamaa malakat aimaanukum peliharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu,” ucap Nabi dengan suara yang amat lirih. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, para sahabat saling berpelukan. Sayyidah Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah, “Ummatii, ummatii, ummatiii!”. Dan, berakhirlah hidup manusia paling mulia Rasulullah Muhammad Saw. Kalimat kecintaan beliau terhadap umatnya, hingga beliau menginginkan semua siksa maut umatnya ditimpakan kepada beliau. Bukan hanya itu, ketika ajal sudah di tenggorokan beliau masih memikirkan umatnya “Ummatii, ummatii, ummatiii”. Tinggalkan Dua Wasiat Ketika Rasulullah Saw menahan sakitnya sakaratul maut, beliau masih sempat berpesan sebagai tanda cintanya kepada umatnya. “Uushiikum bissholaati, wamaa malakat aimaanukum peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Dalam riwayat shahih, disebutkan عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حُضِرَ جَعَلَ يَقُولُ الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ». “Ummu Salamah radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika dalam keadaan sekarat bersabda “Jagalah salat, jagalah salat, dan orang-orang lemah di antaramu”. HR Ahmad Betapa sayangnya Rasulullah Saw kepada kita hingga beliau menekankan agar tidak meninggalkan dua perkara di atas. Dua perkara ini sama maknanya dengan ibadah vertikal hablumminallah dan ibadah sosial hablumminannas. Salat merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah Ta’ala. Sedangkan menjaga orang-orang lemah’ adalah ibadah mulia agar tidak berlaku zalim kepada sesama. Adakah cinta kita sama besarnya seperti Rasulullah Saw mencintai kita sebagai umatnya? Apa yang telah kita perbuat untuk beliau yang setiap malam mendoakan umatnya? Bukankah beliau telah mengajarkan kita Tauhid dan kasih sayang Allah? Kalau bukan karena beliau, tentulah kita tidak mengenal Islam, tidak mengenal iman dan Al-Qur’an اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيِّدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سيِّدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ “Ya Allah ya Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Nabi Muhammad dan akan keluarganya sebagaimana Engkau memuliakan keluarga Ibrahim dan berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, bahwasanya Engkau sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam.”
pesan nabi muhammad kepada umatnya